- Judul Buku : Perlukah Hidup Minimalis?
- Pengarang : Desy Wee
- Penerbit : Brilliant
- Tahun Terbit : 2021 (Cetakan Pertama)
- Tebal Halaman : 146 Halaman
- Jenis : Non Fiksi
- Kategori : Self Improvement
- Peresensi : Sri Fitri Haryati
Buku dengan judul “PERLUKAH HIDUP MINIMALIS?” ini bertemukan kesederhanaan, dipilih oleh peresensi karna langkah ditemui ditengah gempuran berbagai buku self improvement yang mayoritas membahas kebahagiaan diri namun lupa memberi cara bahagia dalam kesederhanaan.
Karna segala solusi berawal dari sebuah masalah, tentunya minimalis ini memiliki cikal bakalnya tersendiri. Berawal dari berevolusinya perundustrian menyebabkan produksi secara pesat yang tentunya membutuhkan konsumen secara luas memunculkan budaya baru yaitu konsumerisme. Jika menurut kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) berarti paham / gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai tolak ukur kebahagiaan. Kesenangan juga segalanya tentu dapat kita cermati dare pengertian diatas bahwa konsumerisme amatlah merugikan. Selain cenderung membuat kita boros, dapat menyebabkan masalah sosial bahkan merusak lingkungan jika ditinjau lebih jauh seperti polusi karena operasi pabrik yang menghasilkan berbagai jenis limbah.
Lantas apa yang bisa memicu rasa konsumerisme? Salah satunya adalah iklan yang bersifat manipulatif dan persuasif kerap menggiurkan khalayak ramai. Selain itu, tren-tren yang beredar di medsos membuat penggunanya berlomba-lomba mencari ketenaran sehingga tanpa mementingkan seberapa butuhnya kita yang penting punya status tenar di berbagai media sosial.
Ditengah membudidayanya populasi gaya hidup konsumerisme ini, hidup minimalis mampu membuat kita terhindar dare dampak konsumerisme. Minimalisme ini dipahami sebagai upaya menyingkirkan barang-barang berlebihan serta menjalani hidup berdasarkan pengalaman ketimbang materi duniawi, namun bukan berarti terus menerus menghitung kepemilikan barang hanya yang terpenting untuk diperhitungkan adalah kebutuhan vs keinginan. Minimalisme berpandangan kalau konsumsi harus dijalankan berdasarkan kebutuhan karena sampai kapanpun keinginan manusia takkan ada habisnya.
Berbanding terbalik dengan konsumerisme yang lebih berdampak negatif, hidup minimalis memilik banyak manfaat seperti belajar hidup hemat, mengifisiensi menataan ruang, memiliki pola hidup yang lebih teratur, menunjukkan hal paling berharga untuk diri sendiri, lebih bersahabat dengan lingkungan.
Bukan peresensi menemukan metode-metode dectulerring atau seni menata dan mengurangi himbunan, cara praktik capsule wardrobe sebagai upaya meminimalkan jumlah pakaian dalam lemari sampai tips outfit simple yang membuat kita terlihat gaul dan kece walau tanpa harus menguras isi dompet. Supaya kita dapat membuktikan bahwa minimalisme ini biasa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari
Dan satu fakta yang terlupakan jika penulis buku “PERLUKAH HIDUP MINIMALISME?” ini juga mempraktekkan hidup minimalisme, meski berawal dare orang yang kerap kali menimbun berbagai pernak pernik karna kecintaanya pada dunia craft, gemar berbalanja fesyen hingga pakaiannya kian bertambah, plus prabotan yang kian menyesaki isi ruangan. Desy wee sempat berfikir untuk pindah kehunian yang luas namun mengingat harga tanah dan rumah di yogyakarta yang fantastis membuat kemustahilan jika ingin di dapat dalam waktu singkat. Dan bagai hidayah di tengah kegundahan, gaya hidup minimalisme ia temukan dan secara bertahap desy pun turut ia ubah sebab bagi desy hidup minimalisme barang yang dimiliki, pada makan pun turut ia ubah sebab bagi desy, hidup minimalis bukan hanya tentang kesederahanaan dan esensi, tapi hidup minimalisme adalah tentang hidup yang berkesadaran. Karna setiap makhluk hidup, tak terkecuali hewan juga berhak untuk hidup bahagia.
Sejauh pengamatan, peresensi meninjau keunggulan buku yang sangat simple dibagian cover seolah mewakili kesederhanaan yang dibahas didalamnya. Namun jangan menilai dari covernya saja karna dibagian dalamnya buku didesain dengan nutrasi yang berkaitan dengan pembahasan sehingga tidak akan membuat pembaca jenuh dan bosan.
Jika dare segi lain peresensi merasa tidak terdapat kekurangan dalam buku ini. Penulisannya mudah dipahami, baku namun tidak kaku, ukuran font yang standar sehingga memusingkan mata, dan halaman yang tidak teralu banyak hal ini bisa pembaca nilai dengan membaca dan menerapnya isi dalam buku secara mandiri karena opini ada didalam kendali masing orang bisa jadi pandanagn pembaca dan peresensi. Sebab peresensi hanya dapat memfasilitasi dengan meresensi buku yang dinilai cukup ampuh menarik minat pembaca jadi “Selamat Menumbuhkan Semangat Baca!”