Madrasah Aliyah

MA Al-Mujtama`

Pamekasan Madura

“Rintihan Luka Raja Ampat”

Oleh: Cut Riskin Sabila (Anggota Ekstrakurikuler Kepenulisan)



Mentari pagi menyinari sebuah pulau Pianemo yang tenang, karena keindahan alamnya yang begitu asri dan alami. Pagi-pagi buta seorang anak yang bergaris keturunan Papua dan Jawa, ia ingat hari ini ia akan bermain seluncuran dipantai tempat Mambor bermain bersama teman-temannya. Menurut Mambor pantai adalah tempat yang sangat menyenangkan untuk bermain bersama. Hari-hari berlalu, Mambor si anak petualang ingin bermain lebih lama dari hari-hari biasanya, tapi temannya tidak mau karena waktu bermain mereka dibatasi oleh orang tuanya dengan batas biasanya.

Mambor tetap kekeh mengajak teman-temannya untuk bermain tetapi, tetap saja tidak ada yang mau. Mambor memutuskan untuk pergi sendiri, setibanya di pantai Mambor melihat kapal tongkak yang sangat besar melintasi pantai tersebut. Mambor tidak menghiraukannya, tak lama kemudian ia melihat lagi kapal tongkak yang memuat beberapa orang yang berseragam. Kapal tongkak yang dilihat Mambor menghilang dari pandangannya.

“Sebelumnya, tidak ada toh kapal-kapal besar yang melewati pulau ini?” gumam Mambor sambil mengamati kepergian kapal tongkak tersebut.

Sepulang dari pantai tersebut Mambor menceritakan kejadian tadi pada ibunya yang sedang berada didalam rumah.

“Ibuuuuuu” panggil Mambor sambil berteriak.

“Ibuuuuuu” ulang Mambor dengan nada kesal.

“Pie to nak…? Pie…?” ucap ibunya dengan lembut sambil menghampiri Mambor.

“Ibu, ibu tau?” ucap Mambor dengan nafas tersengal-sengal.

“Ibu, tadi Mambor melihat kapal besar sekali!” ucap Mambor antusias.

“Mambor lihatnya dimana?” Tanya ibunya.

“Dipantai” jawab Mambor polos.

“Dipantai mana? Mambor lihat kapal besar tadi ?” Tanya ibunya dengan raut wajah khawatir.

“Dipantai biasanya Mambor bermain bersama teman-teman” ujarnya.

“Terus kapalnya menuju kemana?” Tanya ibunya tak sabar yang membuat Mambor heran.

“Gak tau” ujarnya sambil mengedikkan kedua bahunya.

“Aduhhh pie iki loh pieee” ucap ibunya mondar mandir dengan raut wajah khawatir.

“Kenapa bu?” Tanya Mambor heran terhadap kelakuan ibunya.

“Mambor besok bereskan barang-barangnya! Kita akan pergi ke rumah nenek” tegas ibunya lalu pergi dari hadapan Mambor dengan raut wajah khawatir.

“Kenapa ibu tiba-tiba ingin pergi ke rumah nenek, kan biasanya satu hari sebelum lebaran?” gumam Mambor sambil berlalu dari ruang tamu.

Keesokan harinya Mambor membereskan barang-barang untuk pergi ke rumah nenek. Diperjalanan Mambor ingin menanyakan tentang kepergiannya ke rumah nenek yang secara dadakan. Akan tetapi, Mambor melihat wajah ibunya yang sedang memikirkan sesuatu, ia pun mengurungkan niatnya untuk bertanya. Sesampainya di rumah nenek Mambor melihat neneknya sedang menyapu di depan rumah.

“Nenekkkk” panggil Mambor dengan girang sambil menghamburkan pelukan kepada neneknya, karena sudah lama ia merindukan sosok nenek yang jauh dari tempat tinggalnya.

“Kok gak ngabarin dulu kalo mau kesini?” Tanya nenek sambil melepaskan pelukan Mambor dan menatap anak dan cucunya bergantian.

“Nanti aja bu, biar sarah jelasin didalam” ucap sarah yang sudah kelelahan karena lamanya perjalanan.

Diruang keluarga, Mambor sedang asyik menonton kartun kesukaannya di televisi.

“Ayo ndok makan dulu!” ucap sang nenek kepada anak dan cucunya.

Selesai makan, Mambor melanjutkan aktivitasnya yanga tadi terhalang oleh makan siang.

“Pie to rah kok tiba-tiba kesini?” Tanya ibunya dengan nada penasaran.

“Jadi gini bu, kemarin waktu Mambor bermain di pantai ia tak sengaja melihat dua kapal besar, Sarah takut kejadian tahun lalu terulang lagi.” Ujar Sarah dengan nada sedih.

Kejadian tahun lalu mengingatkan Sarah pada sosok lelaki yang ia sangat cintai tewas dibunuh oleh sekelompok orang yang ingin menguasai Raja Ampat. Ayah Mambor seorang reporter, ia ditugaskan mencari berita pada PT. Mulia Raymond Perkasa tambang nikel yang berada di sekitar pulau Raja Ampat. Namun, naas menghampirinya bukan mencari berita, namun ia dibunuh oleh sekelompok orang yang sudah berkuasa. Ditengah lamunannya, tiba-tiba ada yang memangilnya.

“Ibuu,ibuu” panggil Mambor dari ruang keluarga.

“Sini buuu…cepat…” ucap Mambor tidak sabar.Ibunya pun bergegas menghampiri Mambor di ruang keluarga.Sesampainya ibunya menganga melihat tayangan di televisi yakni, kejadian di tempat mereka tinggal selama ini (Raja Ampat).

Rumah mereka diratakan dan dijadikan sebagai pabrik tanmbang nikel. Sarah tidak menyangka sebegitu teganya mereka, hingga tempat tinggal yang telah menyimpan susah senang selama ini dihancur leburkan setelah apa yang mereka lakukan selama ini, membuat Sarah frustasi.

“Arrghhhhhh……..” teriak Sarah sambil memegang kepalanya, lalu menangis di pelukan ibunya.

“Ini tidak adil bu….” Ucap Sarah disela-sela tangisannya.

“Ibu bagaimana teman-teman Mambor yang ada disana, dan bagaimana dengan rumah peninggalan ayah bu?” ucap Mambor sedih kepada ibunya.

“Ibu tidak tau nak….” Ujar Sarah lemas, lalu meraih handphone dimeja lalu menelfon tetangga-tetangganya yang ada disana.

“Halo… bagaimana kabar kalian? Apakah kalian baik-baik saja?” Tanya Sarah khawatir.

“Saya diusir mbak oleh mereka, rumah kami digusur dan diratakan.” Ucap salah satu dari mereka dengan nada sedih.

“Terus kalian tinggal dimana sekarang?” Tanya Sarah.

“Saya sedang menaiki kapal bersama tetangga lainnya” ucapnya sedih.

“Rencananya kamu mau kemana, kalau sudah sampai di pelabuhan?” Tanya Sarah semakin khawatir.

“Saya sama lainnya nggak tau juga mbak mau kemana !” ujarnya pasrah.

“Gimana kalau sementara waktu, kalian pergi ke jawa dan tinggal di rumahku.” Tawar sarah kepada mereka dengan perasaan iba.

“Yang bener mbak?” Tanya mereka memastikan degan perasaan bahagia.

“Iya bener, nanti aku tunggu kedatngan kalian, semoga selamat sampai tujuan” ucap Sarah sambil menutup saluran telefonnya.

Sesampainya dirumah Sarah, tetangganya langsung menghamburkan pelukan kepada Sarah dan ibunya. Di sisi lain, Mambor juga berpelukan dengan teman-temannya.

“Syukurlah kalian tidak apa-apa” ujar ibu Sarah yang dijawab dengan anggukan  dan senyuman dari mereka.

Beberapa hari berlalu, rumah nenek yang semula tenang kini berubah menjadi tempat penampungan sementara penuh canda, tangis, dan harapan. Anak-anak kembali bermain meski tanpa pantai, tanpa seluncuran, tanpa suara ombak yang biasa menyambut mereka setiap pagi. Tapi tawa mereka adalah simbol bahwa luka tak selalu harus membungkam bahagia.

Sarah duduk di beranda, menatap langit sore yang mulai merona jingga. Di tangannya tergenggam foto mendiang suaminya. Ia mengelus pelan, lalu berbisik lirih, “Aku janji, aku akan menjaga Mambor, menjaga mimpi kita, dan melawan dengan caraku…”

Di tengah kesunyian, Mambor mendekat, menggenggam tangan ibunya.

“Bu… kalau aku besar, aku ingin jadi seperti ayah… tapi bukan untuk cari berita saja… aku ingin menyuarakan kebenaran, agar tak ada lagi orang jahat yang menghancurkan tempat tinggal kita.”

Sarah tersenyum, air matanya jatuh tanpa suara. Ia memeluk Mambor erat, seolah dalam pelukan itu ada keberanian yang diwariskan dari ayahnya, dan cinta yang tak akan pernah hancur, meski rumah mereka telah jadi puing.

Dari kejauhan, suara adzan berkumandang, menyatu dengan desau angin yang membawa pesan: Raja Ampat mungkin tak lagi sama, tapi jiwa-jiwa yang memperjuangkannya akan terus hidup — dalam kenangan, dalam mimpi, dan dalam langkah anak-anak seperti Mambor.

Tulisan Terbaru
Tulisan Populer
Tulisan Terbaca